Pages

Ibu Penuh Waktu dan Perempuan Yang Bekerja

Senin, 08 Desember 2014

Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah kesimpulan. Perempuan yang bekerja tidak lebih baik daripada mereka yang hanya mengurus rumah tangga. Begitu juga sebaliknya, para ibu yang ‘bekerja’ penuh waktu untuk keluarga, tak sedikitpun memiliki hak untuk merendahkan perempuan lainnya yang memilih bekerja di luar rumah untuk kebutuhan dan kebahagiaan hidupnya.

Ini menyebalkan. Belakangan ini, timeline Facebook dan Twitter saya dipenuhi dua jenis pesan yang menurut saya keduanya sudah salah sejak dalam pikiran!

Ibu Penuh Waktu dan Perempuan
Yang Bekerja (Ilustrasi) 
Pesan pertama menyatakan bahwa tugas seorang perempuan adalah mengurus rumah tangga dan bekerja penuh waktu sebagai ibu yang merawat serta mendidik anak-anaknya. Pesan ini tampak baik-baik saja, sebenarnya, sebelum ia mendeskriditkan perempuan lainnya yang memilih bekerja di luar rumah, meniti karir atau sekadar menyambung hidup untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Dengan mengumbar argumen-argumen agama, kelompok yang menyebarkan pesan ini ingin para istri dan ibu diam di rumah saja: Menjadi perempuan penurut yang menghabiskan waktu hidupnya untuk ‘melayani’ suami dan anak-anak. Saya perlu menuliskan kata ‘melayani’ dengan tanda kutip, sebab kata ini rupanya benar-benar dipakai untuk memposisikan perempuan sebagai ‘pelayan’ rumah tangga saja. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, apalagi tugas mereka selain menyiapkan makanan, mencuci piring atau pakaian, menyapu atau mengepel lantai, lalu menunggu suami dan anak-anak pulang?

Pesan kedua bernada sebaliknya. Tanpa menafikan tugas seorang perempuan untuk merawat dan membahagiakan keluarga, katanya, perempuan juga punya hak yang sama untuk berprestasi di luar rumah—seperti berkarir di dunia kerja. Pesan semacam ini tampak baik, sebelum ia dibalut semacam sinisme berlebihan: Bahwa perempuan yang hanya berdiam di rumah untuk mengurus suami dan anak-anak adalah mereka yang memiliki pikiran yang ketinggalan zaman, jumud, dan kaku. Tak cukup sampai di situ, mereka lantas meremehkan sejumlah nasihat yang sebenarnya penting: Tentang tak menyerahkan sepenuhnya pengasuhan anak pada orang lain, tentang menjadi istri dan ibu yang baik, tentang menjadi perempuan mulia untuk menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Bagi saya, keduanya sama-sama tak menarik. Sama-sama menyebalkan. Keduanya bermasalah sebab melupakan sebuah momen penting bernama ‘empati’. Apapun argumen yang dipakai, mereka yang memilah-milah perempuan menjadi ini dan itu, harus begini dan begitu, tanpa terlebih dahulu ‘ikut merasa’ dan ‘membayangkan’ ada di posisi satu sama lainnya, tak seujung kuku pun berhak saling mengukur-ukur dan menghakimi. Perempuan yang tidak bekerja punya haknya sendiri untuk tidak bekerja, begitu juga sebaliknya. Memberi penilaian sepihak tanpa sikap empati seraya ngotot pada ‘pembenaran’ masing-masing adalah sebuah kesalahan besar—sejak dalam pikiran!

Saya terlahir di tengah keluarga pekerja keras. Nenek saya dari pihak ayah di masa mudanya adalah seorang petani yang ‘harus’ bekerja di luar rumah. Bersama kakek saya, nenek giat bekerja di ladang tetapi tetap mengurus dan merawat 10 anak-anaknya. Nenek saya dari pihak ibu adalah seorang pedagang yang tekun. Lebih 45 tahun ia berdagang tanpa sedikitpun melupakan tugasnya sebagai seorang istri maupun ibu.

Apakah mereka berdua kurang mulia di mata agama karena tidak menjadi istri dan ibu penuh waktu? Saya tidak tahu pasti. Tetapi saya kira agama saya tidak sedangkal bahwa perempuan harus diam saja di rumah dan tak perlu mencari nafkah. Kedua nenek saya menghabiskan waktu hidupnya untuk membantu suami masing-masing, seraya membesarkan anak-anak mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang. Di masa tua, keduanya tidak kaya raya. ‘Dunia kerja’ tak berhasil memberi mereka kemewahan. Tetapi anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi-pribadi tangguh yang menyayangi serta menghormati ibunya, saya kira. Sebagian menjadi profesor, doktor, guru, insinyur. Sebagaian lainnya menjadi pengusaha. Barangkali, itulah kekayaan dan kemewahan yang dimiliki kedua nenek saya.

Ibu saya lain lagi. Ibu memilih menjadi istri dan ibu penuh waktu, tak pernah seharipun bekerja di luar rumah untuk orang lain. Sejak awal menikah, ibu dan ayah sepakat membagi tugas masing-masing. Ayah bekerja di luar rumah, sementara ibu membantu ayah mem-back-up cinta dan perhatian untuk anak-anaknya. Mereka berdua bahagia menjalankan tugasnya masing-masing. Itu yang penting. Saat saya dan adik-adik pergi bersama ayah untuk membeli sesuatu dari uang yang dihasilkan ayah, ayah bilang bahwa rejeki yang diperolehnya dihasilkan dari kerja keras ibu yang membuatnya bekerja dengan tenang—sebab ibu telah menggantikan waktu ayah untuk merawat dan membahagiakan kami semua di rumah. Di rumah, ayah tidak pernah membiarkan ibu menjadi pelayan. Dan apakah ibu saya termasuk perempuan yang kuno, jumud, dan kaku karena tidak berkarir di luar? Saya kira, tidak. Ibu hanya memilih untuk tidak bekerja… dan ia bahagia menjalaninya.

Sampai di sini, barangkali saya perlu mengulangi kesimpulan saya lagi. Perempuan yang bekerja tidak lebih baik daripada mereka yang hanya mengurus rumah tangga, begitu juga sebaliknya! Yang mereka butuhkan adalah berempati pada satu sama lainnya. Hidup yang dijalani satu orang tentu berbeda dengan hidup yang dijalani orang lain, maka setiap orang memiliki pertimbangannya masing-masing untuk memutuskan hidup bahagia seperti apa yang ingin dipilihnya. Itu yang penting!

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan pertanyaan. Pentingkah pemerintah mengurangi jam kerja perempuan karir agar mereka punya waktu lebih banyak mengurus rumah tangga? Alih-alih penghormatan dan pengagungan perempuan, jangan-jangan rencana ini sebuah bentuk diskriminasi bahwa perempuan tak bisa menentukan dan mengatur kebahagiaannya sendiri. Jangan-jangan renacana tersebut merupakan bentuk ‘arogansi’ kaum laki-laki…. yang sudah salah sejak dalam pikiran?

Saya tak punya jawabannya. Hanya perempuan, dengan perspektifnya masing-masing, yang bisa menjawabnya sesuai dengan 'kebutuhan'-nya masing-masing.

Di atas semua itu, tenang saja. Bekerja atau tidak, seorang ibu selalu mulia.


Sumber : Fahd Pahdepie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

Most Reading