Pages

Pengasuhan Anak

Kamis, 27 November 2014

Ilustrasi
Resume program Kelas Pengasuhan Anak

Hotel Citarum, 8--9 Nov 2014 

Kenapa kita harus belajar ttg pengasuhan anak :
1. Allah memerintahkan kita utk terus belajar
2. Zaman : zaman telah berubah. Dulu akses informasi terbatas. Sekarang akses informasi tersebar luas
3. Agar anak bahagia

Kenapa orang tua sering emosi menghadapi anak - karena orang tua tidak punya ilmu
Kenapa anak berperilaku buruk - karena beda pola asuh
Kenapa anak menjadi beban - karena kita tidak bersama anak, kita hanya di dekat anak. Orang tua sibuk dengan gadget

PR utk orang tua : 
  1. PR ke-1: Insya Allah mulai hari ini saya bersungguh-sungguh jadi orang tua betulan, bukan kebetulan. saya bersungguh sungguh memulainya dari hal yang sederhana, yaitu menyediakan waktu bersama anak setiap hari, setidaknya 30 menit setiap hari sebelum 12 tahun dan 3 jam setidaknya setiap bulan setelahnya
  2. PR ke-2: Insya Allah mulai hari ini, saya akan MEMBEBASKAN hidup anak saya demi kebahagiaan mereka sepanjang tidak berlebihan, yaitu:
    1. Tidak membahayakan dirinya
    2. Tidak merugikan orang lain
    3. Tidak melanggar hukum agama, negara dan norma setempat
  3. PR ke-3: Insya Allah  mulai hari ini saya bersungguh-sungguh sekuat tenaga untuk MENDAMPINGI anak setiap hari jika bertemu dgn anak setidaknya pada 4 kegiatan, yaitu :
    1. Bangun tidur
    2. Mau tidur
    3. Makan 
    4. Sholat
  4. PR ke-4: saya akan mengutamakan KEBENARAN, bukan usia, untuk membesarkan anak saya dan pantang bagi saya membandingkan anak saya dengan saudaranya apalagi dengan orang lain
  5. PR ke-5: Insya Allah  mulai hari ini, saya tidak akan mengatakan kalimat negatif tentang anak saya di depan anak, sebaik apapun tujuannya. Saya tidak ridho konsep diri anak saya menjadi negatif gara-gara mulut saya yang tidak terjaga. Hati-hati karena itu akan menjadi label. Kita melabeli anak kita nakal maka ia menjadi nakal. Isi toples sesuai labelnya
  6. PR ke-6: mulai hari ini saya akan bersungguh-sungguh melakukan apa yang saya katakan kepada anak, mulai hari ini saya akan bersungguh-sungguh tidak pernah berbohong dan ingkar janji pada anak sebaik apapun tujuannya. saya tidak ridho anak-anak saya tidak mempercayai saya sebagai orang tuanya.
    1. Orang tua tegas tapi tidak kasar
    2. Orang tua harus konsisten
  7. PR ke-7: mulai hari ini saya bersungguh sungguh, ketika anak saya berlebihan, saya akan sedikit bicara dan banyak bertindak. Yaitu dengan membuat batasan-batasan yang jelas dan konsekuensi yang jelas. Ketika saya terpaksa menindak anak, saya sekuat tenaga melaksanakannya dan tidak mudah goyah oleh perlawanan anak berupa: tangisan, kemarahan, amukan, dan serangan kata-kata atau fisik. saya tahu tidak akan mudah, tapi saya juga tau jika tidak melaksanakannya sekarang,  akan jadi kesulitan yang berkepanjangan
    1. anak nangis minta sesuatu, "cuekin aja"
    2. anak ngamuk, orang tua tinggalkan ia...tapi tetap dalam pengawasan
    3. orang tua jangan lembek dengan segera memberi apa yg diminta anak
  8. PR ke-8: mulai hari ini saya akan bersungguh sungguh saya akan mendekati anak saya pada saat berbuat baik lebih sering dari pada saat berbuat buruk dan setelah itu tidak akan jaga image untuk:
    1. mengungkapkan perasaan positif yang kita rasakan
    2. mendoakan anak sesekali yang sengaja terdengar anak
    3. menceritakan kebaikan anak kepada orang lain
  9. PR ke-9: Mulai hari ini saya bersungguh-sungguh saya akan melatih diri saya agar menjadi tempat curhat terbaik yg dipilih anak saya dengan membiasakan diri:
    1. mengajak anak bicara soal sepele sebelum yang serius
    2. mengajak anak berbicara pada saat tidak bermasalah sebelum yang bermaslah
    3. Tidak akan pernah memasukan nasihat sebelum mengeluarkan isi pikiran dan perasaan anak-berikan nasihat setelah anak colling down
Semoga bermanfaat

Sumber : Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari (Director of Auladi-Parenting School)

Negeri Tanpa Ayah

Rabu, 26 November 2014


SEBUAH RENUNGAN KHUSUS UNTUK PARA AYAH


Ilustrasi
Jika memiliki anak sudah ngaku-ngaku jadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola.
AYAH itu gelar untuk lelaki yg mau dan pandai mengasuh anak bukan sekedar 'membuat' anak.
Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi.
AYAH yang tugasnya cuma ngasih uang, menyamakan dirinya dengan mesin ATM. Didatangi saat anak butuh saja
Akibat hilangnya fungsi tarbiyah dari AYAH, maka banyak AYAH yg tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi basah
Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggung jawab AYAH ?
Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH durhaka. Ini istilah dari umar bin khattab
AYAH durhaka bukan yg bisa dikutuk jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yg menuntut anaknya shalih dan shalihah namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya
AYAH ingin didoakan masuk surga oleh anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya
AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi tak mau memuliakan anaknya
Negeri ini hampir kehilangan AYAH. Semua pengajar anak di usia dini diisi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap fatherless country
Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan di usia dini. Dimana AYAH sang pengajar utama ?
Dunia AYAH saat ini hanyalah Kotak. Yakni koran, televisi dan komputer. AYAH malu untuk mengasuh anak apalagi jika masih bayi
Banyak anak yg sudah merasa yatim sebelum waktunya sebab AYAH dirasakan tak hadir dalam kehidupannya
Semangat quran mengenai pengasuhan justru mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita kenal Lukman, Ibrahim, Ya'qub, Imron. Mereka adalah contoh AYAH yg peduli
Ibnul Qoyyim dalam kitab tuhfatul maudud berkata: Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH
Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yg merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggungjawaban kelak
Rasulullah yg mulia sejak kecil ditinggal mati oleh AYAHnya. Tapi nilai-nilai keAYAHan tak pernah hilang didapat dari sosok kakek dan pamannya
Nabi Ibrahim adalah AYAH yg super sibuk. Jarang pulang. Tapi dia tetap bisa mengasuh anak meski dari jauh. Terbukti 2 anaknya menjadi nabi
Generasi sahabat menjadi generasi gemilang karena AYAH amat terlibat dalam mengasuh anak bersama ibu. Mereka digelari umat terbaik.
Di dalam quran ternyata terdapat 17 dialog pengasuhan. 14 diantaranya yaitu antara AYAH dan anak. Ternyata AYAH lebih banyak disebut
Mari ajak AYAH untuk terlibat dalam pengasuhan baik di rumah, sekolah dan masjid
Harus ada sosokp AYAH yg mau jadi guru TK dan TPA. Agar anak kita belajar kisah Umar yg tegas secara benar dan tepat. Bukan ibu yg berkisah tapi AYAH
AYAH pengasuh harus hadir di masjid. Agar anak merasa tentram berlama-lama di dalamnya. Bukan was was atau merasa terancam dengan hardikan
Jadikan anak terhormat di masjid. Agar ia menjadi generasi masjid. Dan AYAH yang membantunya merasa nyaman di masjid
Ibu memang madrasah pertama seorang anak. Dan AYAH yang menjadi kepala sekolahnya
AYAH kepala sekolah bertugas menentukan visi pengasuhan bagi anak sekaligus mengevaluasinya. Selain juga membuat nyaman suasana sekolah yakni ibunya
Jika AYAH hanya mengurusi TV rusak, keran hilang, genteng bocor di dalam rumah, ini bukan AYAH 'kepala sekolah' tapi AYAH 'penjaga sekolah'
Ibarat burung yang punya dua sayap. Anak membutuhkan kedua-duanya untuk terbang tinggi ke angkasa. Kedua sayap itu adalah AYAH dan ibunya
Ibu mengasah kepekaan rasa, AYAH memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak
Jika ibu tak ada, anak jadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika
AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yg tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yg peduli. Tegas dan peduli itu sikap utama
Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yg lengkap. AYAH terlibat, ibu apalagi
Mari penuhi hak anak untuk melibatkan AYAH dalam pengasuhan. Semoga negeri ini tak lagi kehilangan AYAH
Silahkan share jika berkenan agar makin banyak AYAH yang peduli dengan urusan pengasuhan.
sumber : Ust Bendri Jaisyurrahman (@ajobendri)

Jangan Memporsir Belajar Anak

Senin, 24 November 2014

Ilustrasi
Hari ini saya berkunjung ke sebuah rumah sakit, membesuk anak teman saya yang sedang sakit. Teman saya ini seorang wanita karir lulusan S2 dari sebuah universitas ternama. Anaknya adalah seorang anak perempuan yang manis, umurnya baru 6 tahunan. tak lupa saya membawakan sebuah boneka sebagai buah tangan.

Waktu saya datang dia langsung mengenali saya sebagai teman mamanya.
"bu siti yaa​?" ( bukan nama sebenarnya) "iya " jawab saya, agak terharu karena dia mengenali saya
"Ayoo.. bu siti.. 42:6 berapaa?"
"Kalau do'a masuk kamar mandi?"
Kemudian dia menirukan gaya mengajar bu gurunya dikelas. Ada senam bersama, lalu dia menirukan gerakan senam versi dia kemudian menyanyikan lagu 5x5 =25, setelah itu dia melafalkan doa  sebelum makan.
"Bu siti ..ayo..buat kalimat.. saya pergi kesekolah setelah itu pulangnya ke mall, bisa?.."

Lucu?? Pintar?? Cerdas?? mungkin itu juga yang ada dibenak teman- teman saat mengikuti celoteh anak perempuan teman saya itu. Namun selama saya hadir disitu sang bunda terus menerus menyeka air matanya. Yaa. saya turut prihatin dengan penyakit yang sedang diderita oleh anaknya. Penyakit apakah gerangan? Yang pasti bukan sembarang penyakit seperti anak anak biasa, bukan demam, bukan batuk dan bukan pilek. Jangan terkejut teman teman, karena saya berkunjung bukan dirumah sakit biasa, saya sedang berada dirumah sakit jiwa..

Apa yang sebenarnya terjadi??
Minggu-minggu terakhir ini sang anak sangat suka menangis. Kalau ditanya apa saja...jawabnya sering ngelantur, "7" "24:6 =4...""how are you" , dan jawaban lain seperti huruf hijaiyah, kemudian menirukan gaya gurunya mengajar.

Menurut  psikolog , anak ini terlalu d forsir..dia mengikuti les matematika d yang target tugasnya 1 buku harus selesai 10 menit, kemudian les bahasa inggris,terus sekolah, les mengaji dan lain - lain sehingga mengakibatkan anak terlalu jenuh.

Si anak hanya mau bercerita sama psikolognya,tetapi kalau  ditanya oleh orang lain jawabannya angka-angka, bahasa inggris atau pelajaran mengaji "apa ini?huruf....hijaiyyah.." jadi dia menirukan gaya gurunya..dan jika bertemu orang yang memakai baju guru dia langsung tertekan.

Yang lebih mengharukan lagi, saat melihat sang bunda menangis, Si anak cuma bilang
"bunda jangan nangis aku kan pinter tapi aku ga mau tidur sama bunda yaaa aku maunya sama dokter ganteng/cantik aja..."

Dia memang tinggal di kamar vip jadi memang ada dokter yang mengawani sehari- hari
Dan ternyata ada 5 anak kecil yang masuk rumah sakit jiwa itu, tapi dia yg paling kecil..sisanya umur 12 tahunan karena broken home.

Hanya dia sendiri yang mengalami gangguan akibat terlalu banyak tekanan belajar. Sungguh kasihan


Pelajaran berharga untuk para orang tua agar tetap memperhatikan tahapan perkembangan anak, usia tk adalah usia bermain, belajarpun harus melalui permainan dan jangan korbankan anak-anak kita karena ambisi orangtuanya, biarkan mereka bermain dan berikanlah kenangan masa kecil yang terindah untuk mereka. Stop eksploitasi anak demi ambisi orang tua.


Sumber : grup whatsapp "Gerakan Cinta Imun"
 

Blogger news

Blogroll

Most Reading