Pages

Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Fase-Fase Kritis Pembentukan Perilaku Anak

Minggu, 08 November 2015

Image result for fase fase kritis pembentukan perilaku anak
Ilustrasi

Berada di fase manakah anak kita ?
Suatu ketika ada seorang ibu yang memiliki anak berusia 16 tahun datang kepada saya, untuk mengeluhkan perilaku anaknya katanya sangat bermasalah.
Bayangkan katanya; anak saya ini sudah tidak bisa di atur lagi, bahkan jika dia bicara ke saya, sering memaki-maki dengan perkataan yang kotor, dan bahkan pernah beberapa kali dia memukul saya....,
Sambil menangis si ibu ini terus melanjutkan ceritanya... Selain itu saya sama sekolah juga sering di panggil, karena anak ini sering memukul atau bahkan berkelahi di sekolah.
Aduh saya sepertinya sudah tobat dengan perilaku anak saya ini....., saya tidak tahu lagi harus bagaimana....? rasanya saya sudah putus asa....., setiap kali saya mengadukan hal ini pada suami, malah yang saya dapat adalah kemarahan tambahan dari suami saya...
Sungguh pada akhirnya saya juga jadi bingung harus mulai dari mana untuk bisa membantu ibu ini......, yang pasti ini semua merupakan sebuah proses panjang dari suatu kesalahan pengasuhan dan pendidikan dari kedua orang tuanya.
Para orang tua dan guru yang berbahagia,
Kali ini saya tidak ingin membahas tentang bagaimana cara memperbaiki perilaku anak ini, melainkan, saya lebih ingin untuk mengajak para orang tua untuk tahu bagaimana mencegah agar hal yang sama tidak terjadi pada anak kita dirumah.

Para orang tua yang berbahagia, 
Tahukah kita bahwa kita hanya punya kesempatan mendidik anak kita untuk menjadi anak baik sangat terbatas sekali. Yakni sejak usia mereka balita hingga kira-kira di usia sekolah SMP akhir. Setelah itu kebanyakan anak akan sangat sulit sekali di ubah menjadi baik. Kecuali dengan cara-cara tertentu yang agak sedikit ekstrim.

Namun demikian sesungguhnya tiap orang tua dapat mencegahnya sebelum ini terjadi; yakni dengan menggunakan kesempatan emas mendidik anak tersebut.
Menurut penelitian Ibu Dawna Markova, diketahui bahwa perilaku anak itu mulai dibentuk sejak usia Balita; yakni mulai fase Ego Sentris dimana anak merasa paling benar, paling penting sendiri, tidak bisa memahami hak dan keberadaan orang lain.
Diharapkan pada fase ini peran orang tua adalah untuk mengajari anaknya untuk bisa berbagi dan memahami hak orang lain.
Kemudian berlanjut pada fase berikutnya yang di sebut sebagai gank age awal yakni usia SD yang di tandai dengan keinginan anak untuk di terima oleh orang lain atau kelompoknya; dengan cara meniru-niru prilaku teman-teman di kelompoknya. Pada fase ini peran orang tua di harapkan dapat mengajak anak berdiskusi mengenai nilai-nilai baik dan buruk dari sebuah prilaku yang ditiru oleh anaknya sampai ia paham betul. Tentunya tanpa harus memarahi anak, karena pada fase ini anak sering kali tidak tahu kalau yang ditirunya itu buruk, karena mereka memang belum memiliki acuan tentang baik dan buruk.
Setelah itu ia fasenya akan beranjak memasuki usia Gank Age Tengah pada usia SMP. Pada fase ini biasanya seorang anak tidak hanya masih meniru budaya kelompoknya tapi bahkan mulai tumbuh keinginan untuk tampil beda agar mendapat perhatian dari anggota kelompoknya atau orang-orang di sekitarnya; oleh karena itu anak-anak SMP kita yang tidak terkelola mulai menunjukkan perilaku-perilaku seperti mengubah model rambut agar tampak agak nyentrik, kemudian menggunakan gelang, anting atau mulai mencoba merokok, tawuran dsbnya sampai yang terparah adalah perbuatan kriminal dan narkoba. Ini semua pada awalnya hanya dengan tujuan untuk menonjolkan diri di depan teman-temannya untuk mencari-cari perhatian namun pada akhirnya justru malah ke bablasan.
Pada fase ini orang tua dan guru diharapkan dapat membantu anak untuk menemukan keunggulan alaminya, agar ia bisa mendapat perhatian dari hal tersebut; seperti misalnya anak yang kuat di sport di dorong untuk masuk kursus/club sport, bagi anak yang suka tampil bicara berikan kesempatan untuk mengikuti lomba-lomba puisi, pidato,debat, untuk anak yang suka kekerasan dimasukkan ke klub bela diri dsb. Jadi mereka tahu apa yang menjadi keunggulan alami yang bisa dipamerkan pada kelompoknya untuk mendapatkan perhatian. Tidak harus mencari-cari yang pada akhirnya sering menjerumuskan mereka ke perilaku-perilaku terlarang.
Dan apa bila masa SMP ini tidak berhasil kita kelola dengan baik perilaku anak kita maka setelah itu akan sulit untuk mengubahnya. Kenapa....? karena setelah itu dia akan memasuki fase identitas; yakni sebuah fase penetapan nilai dan konsep diri seorang anak. Jika dia menganggap hal negatif seperti kebut-kebutan adalah hal yang oke bagi dirinya; maka dia akan mengakuinya itu sebagai hal baik, dan akan sulit bagi kita untuk mengubahnya..
Jadi sekali lagi mari kita kawal masa-masa perkembangan anak kita mulai dari BALITA hingga menjelang SMA. Jika anda berhasil melakukannya maka selamtlah anak kita; dan anda mulai bisa melepas dia untuk berpisah melanjutkan studinya di perguruan tinggi dengan relatif aman. Namun jika tidak dia akan cenderung terus membuat masalah dimanapun dia berada.

Sumber : Ayah Edy

:: Ayahku ::

Selasa, 03 November 2015

Image result for ayahku tua
Ilustrasi
Saat umurku 4 th: "Ayahku adalah orang yang paling hebat".
Saat umurku 6 th: "Ayahku tahu semua orang".
Saat umurku 10 th: "Ayahku istimewa, tapi cepet marah".
Saat umurku 12 th: "Ayahku dulu penyayang, ketika aku masih kecil".
Saat umurku 14 th: "Ayahku mulai lebih sensitif".
Saat umurku 16 th: "Ayahku tidak mungkin mengikuti zaman ini".
Saat umurku 18 th: "Ayahku seiring berjalannya waktu akan menjadi lebih susah".
Saat umurku 20 th: "Sulit sekali aku memaafkan ayahku, aku heran bagaimana ibuku bisa tahan hidup dengannya".
Saat umurku 25 th: "Ayahku menentang semua yang ingin ku lakukan".
Saat umurku 30 th: "Susah sekali aku setuju dengan ayah, mungkin saja kakekku dulu capek ketika ayahku muda".
Saat umurku 40 th: "Ayahku telah mendidikku dalam kehidupan ini dengan banyak aturan, dan aku harus melakukan hal yang sama".
Saat umurku 45 th: "Aku bingung, bagaimana ayahku dulu mampu mendidik kami semua?".
Saat umurku 50 th: "Memang susah mengatur anak-anak, bagaimana capeknya ayahku dulu dalam mendidik kita dan menjaga kita?".
Saat umurku 55 th: "Ayahku dulu punya pandangan yang jauh, dan telah merencanakan banyak hal untuk kita, ayah memang orang yang istimewa dan penyayang".
Saat umurku 60 th: "Ayahku adalah orang yang paling hebat".
Lingkaran perjalanan ini menghabiskan waktu 56 tahun untuk kembali ke titik semula di umur 4 th, saat ku katakan "Ayahku adalah orang yang paling hebat".
Maka hendaklah kita berbakti kepada orang tua kita sebelum kesempatan itu hilang, dan hendaklah kita berdoa kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita lebih baik dalam bermuamalah dengan kita melebihi mu'amalah kita dengan orang tua kita.

sumber: http://if99.net

Peter Pan Syndrome, Cinderella Complex dan Adverisity Quotsient Ditentukan Lewat Pola Asuh di Rumah

Minggu, 01 November 2015

Image result for peter pan syndrome
Peter Pan Syndrome


Peter Pan Syndrome vs Cinderella Complex dalam upaya pencegahan perceraian dini, begitu tema seminarnya. Waktu pertama kali dengar saya pikir ini kurang relevan untuk saya karena anak-anak masih kecil, belum lagi remaja. Jangankan bicara cerai, bicara nikah aja belum terpikirkan.
yang paling membuat surprise adalah semua berawal dari kasih sayang orang tua dan over proteksi yang tidak pada tempatnya sejak dini, sehingga membunuh kemandirian anak dan membuat rendahnya Adversity Quotient (kemampuan untuk survive). Yang pada gilirannya akan mencetak laki-laki dengan Peter Pan syndrome, yaitu yang tidak pernah dewasa. Atau anak perempuan dengan cinderella complex yang mengharap ‘prince charming’ datang untuk menyelamatkannya, karena tak mampu menghadapi kesulitan hidup akibat terlalu dilindungi.
Pernahkah anda menyuapkan makanan pada anak anda yang sudah SD karena kuatir dia sakit jika tidak makan ? Atau pernahkah anda melihat anak SD berjalan melenggang sementara Ibu/pengasuhnya membawakan tas mereka. Atau jika anda ditelepon anak anda dari sekolah karena buku PRnya ketinggalan, apakah anda akan tergopoh-hopoh datang ke sekolah untuk mengantarkannya, alih-alih menyuruhnya pulang atau membiarkannya disetrap karena kelalaian. Apakah anda membuka satu per satu buku anak untuk mencari PRnya, kemudian mengoreksi PR dengan tangan anda bahkan menolong membuatkan supaya nilainya bagus. Jika ketiga hal diatas terjadi pada anda, maka waspadalah anda sedang menjerumuskan karakter diri anak anda. Kasih sayang yang anda berikan akan merusak kemampuannya untuk survive di masa depan.
Dalam makalah Bunda Elly ciri-ciri anak dengan Peter Pan Syndrome adalah mereka terbiasa hidup nyaman tanpa beban tanggung jawab, tidak suka bekerja keras, kegiatannya banyak main-main, tidak pernah punya tanggung jawab, tidak bisa mandiri/dewasa, tidak berani mengambil keputusan dan menanggung resiko, kurang percaya diri, enggan hidup sendiri karena mengalami ketergantungan pada orang lain.
Pada anak-anak dengan pola asuh yang potensial menimbulkan Peter pan syndrome biasanya cenderung : Suka menentang, pemberontak, susah punya komitmen, pemarah (marah jika kemauannya tidak terpenuhi), tidak bisa menerima kritikan, mudah sakit hati, terlalu cinta pada diri sendiri, senang memanipulasi dan menolak hubungan dengan lawan jenis. Akibatnya mereka punya masalah tidak tahan terhadap invasi kekuasaan dari lingkungan, mereka tidak mampu berpikir tentang dirinya dan apalagi menangani problem yang menimpa. Karena sejak kecil semua masalanya diatasi bunda, ayah atau pengasuhnya.
Cinderella komplex biasanya menimpa anak wanita yang selalu dilindungi atau yang hidupnya dalam keadaan tertekan. Ia mengharap ada figur yang dapat menyelamatkannya di setiap masalah yang dihadapi. Tanpa berusaha untuk berjuang dengan mengerahkan segenap kemampuan.
Dengan pola asuh salah orang tua potensial membentuk karakter laki-laki dengan ciri Peter Pan akibat dimanja dan dibela setiap melakukan kesalahan, dilindungi dan dituruti keinginannya. Sementara anak perempuan dengan ciri Cinderella tidak dididik untuk menerima kenyataan hidup dan diberi banyak mimpi tentang kisah happy ending tanpa tau bahwa happy ending adalah reward dari a long and windeng journey of strugling.
Kedua karakter ini di masa depan akan mengkontribusi dunia dengan generasi yang memiliki AQ (Advertsity Quotient) yang sangat rendah.. Apabila keduanya bertemu dan menikah besar kemungkinan perceraianlah yang terjadi atau never have happy ending.
Karena mereka tidak memiliki cukup AQ untuk mengupayakan kehidupan yang lebih baik. AQ adalah kecerdasan untuk bertahan dan mengatasi setiap kesulitan hidup lewat perjuangan. Dengan AQ ditentukan kadar kemampuan orang mengatasi kemelut tanpa menjadi putus asa.

Akhir-akhir ini, setelah gencar ESQ ditingkatkan, sebagai cara melejitkan prestasi anak di masa depan lewat potensi spiritual. AQ muncul sebagai jawaban atas sedihnya hidup orang-orang yang secara karier dan materi sukses, tapi tidak dapat meraih kebahagian akibat rendahnya AQ. Terutama dalam mebina hubungan dlam rumah tangga.
AQ adalah indikator untuk melihat :
1. Kemampuan bertahan dalam setiap penderitaan dan tau cara mengatasi situasi yang membuat penderitaan.
2. Keterampilan untuk menerima dan menyelesaikan setiap tantangan.
3. Ilmu tentang ketabahan manusia (Human Resillience)
Perusahan maju mulai melihat indikator di atas sebagai patokan dalam merekrut karyawan baru. Selain IQ, EQ dan SQ

Untuk menghasilkan anak yang memiliki AQ tinggi, kita harus memperhatikan 9 aspek perkembangan : Fisik dan kesehatan, daya tahan mental, kestabilan emosi, kemampuan sosial, keimanan dan ibadah kepada Tuhan, keterampilan dan seksualitas yang normal.
So, Smart Parents mau dibawa ke mana pola asuh yang anda terapkan di rumah sepenuhnya adalah hak anda. Tetapi untuk menjadikan anak yang tangguh perlu banyak belajar, usaha dan sabar. Sebelum bicara tentang AQ untuk anak kita, mari berkaca dan meyakini sudah sejauh mana kita sendiri mengembangkan AQ diri kita, dan berusaha meningkatkannya.
Demikian semoga bermanfaat. Be Positive and Get Smarter Every Day.

Sumber : Baskoro Danang 

Seminar Parenting "Kenali Gejala SSA (Same Sex Attraction) Untuk Penanganan Yang Tepat

Kamis, 08 Oktober 2015


Kenali gelaja Same Sex Attraction (SSA) sejak dini, agar anak-anak Anda bisa dididik sesuai dengan fitrahnya. Berdasarkan data klien Peduli Sahabat sejak 2008 pemicu SSA itu ada 3 yaitu, pemaksaan dalam mengambill role model yang salah, over protective (terlalu dimanja/dilindungi), dan Salah mengambil role model secara sukarela. Semua pemicu itu terjadi pada masa balita. Dalam perkembangannya akan mengalami penguatan, salah satunya bisa jadi trauma jiwa seperti pelecahan seksual.

ada 2 teori tentang penyebab SSA , yaitu :
a. Teori Pertama bahwa sifat itu bawaan lahir, genetik, innate, sudah ditakdirkan.
b. Teori Kedua bahwa kecenderungan ini bukan bawaan lahir, dia tumbuh dan berkembang karena banyak faktor dalam masa perkembangan seseorang.


Untuk lebih jelasnya mari kita dengarkan dari seorang aktivis Yayasan Peduli Sahabat yang banyak menangani klien SSA di acara Seminar tentang pengenalan sejak dini gejala SSA pada anak.

Rumah Keluarga Serang
CP : Cita (0812 8207 0828)

Pentingnya Faktor Lingkungan Terhadap Karakter Anak

Minggu, 04 Oktober 2015


Lingkungan merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan bagi perkembangan anak. Faktor lingkungan memiliki cakupan yang luas, sebagai contoh, suatu sekolah yang terletak di jalan raya yang bising terbukti memiliki anak didik dengan kemampuan berkonsentrasi lebih baik ketimbang sekolah dengan situasi belajar lebih tenang.


Di lain sisi, kebisingan justru menyebabkan tekanan darah pada anak meningkat dibanding pada anak yang tidak berada di lingkungan bising. Mengapa suatu stimulus yang sama bisa menyebabkan dampak yang berbeda? Berikut penjelasan selengkapnya di halaman selanjutnya.
Image result for image pengaruh lingkungan terhadap anak
ilustrasi


Faktor lingkungan memiliki peran dalam perkembangan fungsi kognitif dan emosi sosial seorang anak. Fungsi kognitif merupakan kemampuan seorang anak untuk mengolah, menyimpan, dan menggunakan kembali semua masukan sensorik secara baik. Fungsi kognitif terdiri atas unsur memperhatikan (atensi), mengingat (memori), mengerti pembicaraan (bahasa), bergerak (motorik), merencanakan, serta melaksanakan suatu tindakan (eksekutif).

Lantas, seberapa besar pengaruh faktor lingkungan yang memicu stres terhadap tumbuh kembang anak? Sebuah penelitian menyatakan bahwa pada 17.000 orang dewasa yang mengalami stres semasa kecil, satu setengah kali sampai dengan dua kali lebih berisiko memiliki sakit jantung dan pembuluh darah, penyakit autoimun, dan usia kematian lebih dini dibandingkan mereka yang tidak mengalami stres. Stres yang dialami pada penelitian ini disebabkan karena kekerasan dalam keluarga, pelecehan semasa anak-anak, dan penelantaran.

Keharmonisan dalam keluarga juga berhubungan erat dengan perkembangan anak, karena mempengaruhi hal-hal seperti pencapaian akademis di sekolah, perkembangan emosi dan sosial, dan pembentukan kepribadian. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Gene H. Brody dkk. (Department of Child and Family Development and Center for Family Research, University of Georgia) menyatakan bahwa keluarga yang tidak harmonis akan menyebabkan Si Kecil menjadi tidak peduli, tidak suka menolong, dan tidak mampu mengontrol emosi.

Selain itu, kepadatan dalam rumah seperti jumlah orang dalam keluarga, hubungan keluarga dengan tetangga, dan kondisi tempat tinggal yang layak, juga memiliki kaitan dengan perkembangan anak. Dalam hal ini, jumlah anak yang banyak diduga akan mempengaruhi ketidakmampuan orangtua atau pengasuh memperhatikan tumbuh kembang anak satu per satu, sehingga berdampak kurang baik bagi anak tersebut.

Setiap waktu yang dilalui Si Kecil merupakan pembelajaran yang baru baginya. Apa pun yang Si Kecil alami, lihat, dan dengar bisa tersimpan dalam ingatannya dan menjadi patokannya dalam bersikap dan bertindak pada masa yang akan datang. Karena itu, janganlah luput untuk memperhatikan faktor lingkungan – yang nantinya akan berpengaruh terhadap perkembangan emosi dan sosialnya.  Sumber : klikdokter


Mengajari Anak Belajar Bersyukur

Senin, 15 Desember 2014

1,5 Juta? uang yang enggak sedikit loh kak.... kenapa mintanya mendadak banget sih... rencana study tour ini udah lama lohh.. kok kamu gak bilang jauh-jauh hari kalau biayanya begitu besar....

Si Sulung cuma terunduk lesu... sebagai seorang ibu.. saya sangat mengenali anakku... pastinya dia penuh kebimbangan untuk berbicara. Apalagi soal uang  semenjak saya memutuskan untuk re-sign si sulung ini begitu berhati-hati untuk meminta sesuatu dari saya. Karena sejak awal, rencana re-sign saya telah saya komunikasikan dengan suami dan anak-anak termasuk berbagai konsekwensinya.

Mengajari Anak Bersyukur (Ilustrasi)
Si sulung ini sebetulnya sangat dekat dengan saya, tapi dia sangat menjaga. ..menjaga segala-galanya  sedang dengan ayahnya, dia sulit untuk terbuka soal "dirinya". Mungkin karena ayahnya sedikit sekali intensitasnya dengan anak.. walaupun seberapa besar ayahnya mencoba mendekat, seperti ada dinding diantara mereka...Pastinya hal ini terjadi karena dia khawatir merepotkan saya, sementara dia pun segan bicara dengan ayahnya.

Kakak... lain kali gak kayak gini ya... uang segitu gak sedikit, belum tentu orang tuamu punya uang. Kamu sendiri udah paham, beban biaya hidup sekarang makin mahal... 1,5 Jt itu lebih dari setengah gaji buruh... bisa atau enggak bisa orang tua kamu memenuhinya, kamu harus tetap bicara. Jangan kamu kecilkan bubumu ini seolah olah tidak sanggup, dan jangan kamu juga menggampangkan ayah karena kamu anggap ayah bisa mengeluarkan dana segitu... bicara nak.. apa sih susahnya bicara...... dan tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Kalau sekarang kamu baru bilang sama bubu.. maaf yaa bubu jawab gak ada... jawabku tegas.. kamu bicara sama ayah ...

Malam itu suamiku bicara... eh.. anakmu mau pinjam KTP katanya buat ngambil uang tabungan buat study tour.. udah ngomong sama kamu yank? tanyanya...

Jangan kasih... jawabku ringan.... kita kasih pelajaran dulu anak kita... kan mau ulang tahun.. telepon aja gurunya, kita bayar tapi belakangan... jangan bilang-bilang anaknya. mau diajar dulu anaknya... kataku...

Oke deh.. jawab suamiku sambil tersenyum..
Hari sabtu... Kakak Fashhan Luthfan pulang sekolah langsung mendekatiku... Bubu.. kakak mau bayar study tour...  wajahnya memelas...
Kakak... emang harus yaa ikut study tour? kakak.. itu bukan uang sedikit looh... kakak ngerti enggak buat dapetin uang segitu gak gampang...
temen kakak emang ikut semua? tanyaku
Enggak bubu.. jawabnya..
Kenapa? gak semua orang tua bisa bayar kan kak? tanyaku
Iyaa... jawabnya..
Bukan uang sedikit kan kak? tanyaku lagi
Iya.. jawabnya sambil menunduk...
Buat bubu sama ayah juga nilai itu besar, dan sangat berharga... diluar sana banyak orang gak seberuntung kita... kalau kamu gak ikut study tour apa kamu kecewa?
Dia diam...
apa kamu akan berhenti bersyukur dengan ketidak mampuan bubu dan ayah?
Enggak bubu jawabnya...
Apa kamu bakal berkecil hati dan minder karena gak sama dengan teman-temanmu kebanyakan?
Enggak bubu.. jawabnya lagi

Dalam hidup itu ada keinginan kita.. tapi juga ada pilihan prioritas menjalaninya. Tetap harus berusaha dulu ... maksimal!! Kalau sudah berusaha.. apapun hasilnya bukan lagi urusan kita.
Terkadang apa yang kita inginkan itu bukan prioritas..gak jarang apa yang kita inginkan gak kita dapatkan. Tapi apapun kondisinya harus kita hadapi dengan lapang dada dan bersyukur. 
Enggak ada alasan buat enggak bersyukur, karena apapun dan situasi bagaimanapun yang Allah berikan adalah yang terbaik buat kita jalani supaya kita makin dekat sama Allah. Ngerti maksud bubu sama ayah kakak?

Iya.. jawabnya tersenyum...
Ayo kita ke sekolahan sekarang kak.. biar bubu yang bilang sama pak Guru kakak gak ikut study tour.... kataku sambil masuk kamar ambil tas.
Suamiku sedang di mobil waktu aku bergegas masuk ke mobil .. Ayank, antar ke sekolah yaa.. aku mau bayar study tour.. tapi gak bilang anaknya.. aku bilangnya mau menghadap guru buat gak ikut study tour.
Ke sekolah berkoordinasi dengan gurunya  dan alhamdulillah ternyata teman - teman sesama pengurus osis memang sedang merencanakan kejutan buat Fashhan hari senin nanti... Klik... Beres 

Tidak sedikitpun berubah keceriaan Fashhan setelah skenario "penolakan"... Alhamdulillah. .. semoga dia benar-benar paham maksud dan tujuan kami. Mungkin rasa sedih itu ada... tapi biarlah dia merasakan dulu rasa sedih itu, supaya dia tau rasanya kurang beruntung, untuk mendidik rasa empatinya.
Mungkin lebih mudah bagiku dengan memberikan begitu saja setiap keinginan dan kebutuhan anak-anakku...untuk membuat mereka senang... tapi saya memilih repot untuk membuat mereka belajar 

Hari ini 15 Desember.... skenario guru dan teman-temannya berjalan begitu lancar... dan Fashhan begitu tegar dan tenang ketika di "bully" membela pendapatnya untuk minta izin tidak ikut study tour  hampir mirip dengan pendapat yang aku sampaikan kepadanya yang mungkin (mudah-mudahan ) menjadi cara pandangnya juga..

Dan semua itu terhenti ketika dia melihat saya dengan kue ulangtahunnya...
Pesanku hari ini untuknya : Berangkat lah nak.. belajarlah dengan baik. Jika kamu berangkat study tour nanti... tolong jaga hati teman-teman mu yang kurang beruntung.. jangan juga kalian gunakan waktu study tour itu dengan sekedar bersenang-senang tanpa belajar apa hikmah selama perjalanan itu dan satu lagi...jangan lupa BERSYUKUR. Lalu... anakku menangis tersedu-sedu dalam dekapanku 

15 Tahun sudah kamu arungi hidupmu nak.. jadilah pahlawan untuk dirimu sendiri yang selalu mendirikan shalat.. bukan menjalankan shalat... semoga kamu bisa menjadi pemimpin kaum shalihin, mendapatkan berkah dan membagikan keberkahan itu untuk orang-orang disekelilingmu...

With Love.... Bubu..

Sumber : Ernydar Irfan
 

Blogger news

Blogroll

Most Reading