Pages

Mengajari Anak Belajar Bersyukur

Senin, 15 Desember 2014

1,5 Juta? uang yang enggak sedikit loh kak.... kenapa mintanya mendadak banget sih... rencana study tour ini udah lama lohh.. kok kamu gak bilang jauh-jauh hari kalau biayanya begitu besar....

Si Sulung cuma terunduk lesu... sebagai seorang ibu.. saya sangat mengenali anakku... pastinya dia penuh kebimbangan untuk berbicara. Apalagi soal uang  semenjak saya memutuskan untuk re-sign si sulung ini begitu berhati-hati untuk meminta sesuatu dari saya. Karena sejak awal, rencana re-sign saya telah saya komunikasikan dengan suami dan anak-anak termasuk berbagai konsekwensinya.

Mengajari Anak Bersyukur (Ilustrasi)
Si sulung ini sebetulnya sangat dekat dengan saya, tapi dia sangat menjaga. ..menjaga segala-galanya  sedang dengan ayahnya, dia sulit untuk terbuka soal "dirinya". Mungkin karena ayahnya sedikit sekali intensitasnya dengan anak.. walaupun seberapa besar ayahnya mencoba mendekat, seperti ada dinding diantara mereka...Pastinya hal ini terjadi karena dia khawatir merepotkan saya, sementara dia pun segan bicara dengan ayahnya.

Kakak... lain kali gak kayak gini ya... uang segitu gak sedikit, belum tentu orang tuamu punya uang. Kamu sendiri udah paham, beban biaya hidup sekarang makin mahal... 1,5 Jt itu lebih dari setengah gaji buruh... bisa atau enggak bisa orang tua kamu memenuhinya, kamu harus tetap bicara. Jangan kamu kecilkan bubumu ini seolah olah tidak sanggup, dan jangan kamu juga menggampangkan ayah karena kamu anggap ayah bisa mengeluarkan dana segitu... bicara nak.. apa sih susahnya bicara...... dan tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Kalau sekarang kamu baru bilang sama bubu.. maaf yaa bubu jawab gak ada... jawabku tegas.. kamu bicara sama ayah ...

Malam itu suamiku bicara... eh.. anakmu mau pinjam KTP katanya buat ngambil uang tabungan buat study tour.. udah ngomong sama kamu yank? tanyanya...

Jangan kasih... jawabku ringan.... kita kasih pelajaran dulu anak kita... kan mau ulang tahun.. telepon aja gurunya, kita bayar tapi belakangan... jangan bilang-bilang anaknya. mau diajar dulu anaknya... kataku...

Oke deh.. jawab suamiku sambil tersenyum..
Hari sabtu... Kakak Fashhan Luthfan pulang sekolah langsung mendekatiku... Bubu.. kakak mau bayar study tour...  wajahnya memelas...
Kakak... emang harus yaa ikut study tour? kakak.. itu bukan uang sedikit looh... kakak ngerti enggak buat dapetin uang segitu gak gampang...
temen kakak emang ikut semua? tanyaku
Enggak bubu.. jawabnya..
Kenapa? gak semua orang tua bisa bayar kan kak? tanyaku
Iyaa... jawabnya..
Bukan uang sedikit kan kak? tanyaku lagi
Iya.. jawabnya sambil menunduk...
Buat bubu sama ayah juga nilai itu besar, dan sangat berharga... diluar sana banyak orang gak seberuntung kita... kalau kamu gak ikut study tour apa kamu kecewa?
Dia diam...
apa kamu akan berhenti bersyukur dengan ketidak mampuan bubu dan ayah?
Enggak bubu jawabnya...
Apa kamu bakal berkecil hati dan minder karena gak sama dengan teman-temanmu kebanyakan?
Enggak bubu.. jawabnya lagi

Dalam hidup itu ada keinginan kita.. tapi juga ada pilihan prioritas menjalaninya. Tetap harus berusaha dulu ... maksimal!! Kalau sudah berusaha.. apapun hasilnya bukan lagi urusan kita.
Terkadang apa yang kita inginkan itu bukan prioritas..gak jarang apa yang kita inginkan gak kita dapatkan. Tapi apapun kondisinya harus kita hadapi dengan lapang dada dan bersyukur. 
Enggak ada alasan buat enggak bersyukur, karena apapun dan situasi bagaimanapun yang Allah berikan adalah yang terbaik buat kita jalani supaya kita makin dekat sama Allah. Ngerti maksud bubu sama ayah kakak?

Iya.. jawabnya tersenyum...
Ayo kita ke sekolahan sekarang kak.. biar bubu yang bilang sama pak Guru kakak gak ikut study tour.... kataku sambil masuk kamar ambil tas.
Suamiku sedang di mobil waktu aku bergegas masuk ke mobil .. Ayank, antar ke sekolah yaa.. aku mau bayar study tour.. tapi gak bilang anaknya.. aku bilangnya mau menghadap guru buat gak ikut study tour.
Ke sekolah berkoordinasi dengan gurunya  dan alhamdulillah ternyata teman - teman sesama pengurus osis memang sedang merencanakan kejutan buat Fashhan hari senin nanti... Klik... Beres 

Tidak sedikitpun berubah keceriaan Fashhan setelah skenario "penolakan"... Alhamdulillah. .. semoga dia benar-benar paham maksud dan tujuan kami. Mungkin rasa sedih itu ada... tapi biarlah dia merasakan dulu rasa sedih itu, supaya dia tau rasanya kurang beruntung, untuk mendidik rasa empatinya.
Mungkin lebih mudah bagiku dengan memberikan begitu saja setiap keinginan dan kebutuhan anak-anakku...untuk membuat mereka senang... tapi saya memilih repot untuk membuat mereka belajar 

Hari ini 15 Desember.... skenario guru dan teman-temannya berjalan begitu lancar... dan Fashhan begitu tegar dan tenang ketika di "bully" membela pendapatnya untuk minta izin tidak ikut study tour  hampir mirip dengan pendapat yang aku sampaikan kepadanya yang mungkin (mudah-mudahan ) menjadi cara pandangnya juga..

Dan semua itu terhenti ketika dia melihat saya dengan kue ulangtahunnya...
Pesanku hari ini untuknya : Berangkat lah nak.. belajarlah dengan baik. Jika kamu berangkat study tour nanti... tolong jaga hati teman-teman mu yang kurang beruntung.. jangan juga kalian gunakan waktu study tour itu dengan sekedar bersenang-senang tanpa belajar apa hikmah selama perjalanan itu dan satu lagi...jangan lupa BERSYUKUR. Lalu... anakku menangis tersedu-sedu dalam dekapanku 

15 Tahun sudah kamu arungi hidupmu nak.. jadilah pahlawan untuk dirimu sendiri yang selalu mendirikan shalat.. bukan menjalankan shalat... semoga kamu bisa menjadi pemimpin kaum shalihin, mendapatkan berkah dan membagikan keberkahan itu untuk orang-orang disekelilingmu...

With Love.... Bubu..

Sumber : Ernydar Irfan

Pembagian Yang Adil

Alkisah, di sebuah desa yang subur, hiduplah dua lelaki bersaudara. Sang kakak telah berkeluarga dengan dua orang anak, sedangkan si adik masih melajang. Mereka menggarap satu lahan berdua dan ketika panen, hasilnya mereka bagi sama rata.

Ilustrasi
Suatu malam setelah panen, si adik duduk sendiri dan berfikir. "Pembagian ini sungguh tidak adil, seharusnya kakakku lah yang mendapat bagian lebih banyak karena dia hidup dengan istri dan kedua anaknya."

Maka di malam yang sunyi itu diam-diam dia menggotong satu karung padi miliknya dan meletakkannya di lumbung padi milik kakaknya.

Di tempat yg lain, sang kakak juga berfikir, "Pembagian ini adil jika adikku mendapat bagian yang lebih banyak, karena ia hidup sendiri, jika terjadi apa-apa dengannya tak ada yang mengurus, sedangkan aku ada anak dan istri yg kelak merawatku."

Maka sang kakak pun bergegas mengambil satu karung dari lumbungnya dan mengantarkan dengan diam-diam ke lumbung milik sang adik.

Kejadian ini terjadi bertahun-tahun.

Dalam benak mereka ada tanda tanya, kenapa lumbung padi mereka seperti tak berkurang meski telah menguranginya setiap kali panen? Hingga di suatu malam yang lengang setelah panen, mereka berdua bertemu di tengah jalan masing-masing menggotong satu karung padi.

Tanda tanya dalam benak mereka terjawab sudah, seketika itu juga mereka saling memeluk erat, mereka sungguh terharu berurai air mata menyadari betapa mereka saling menyayangi.

Beginilah seharusnya kita bersaudara.

Jangan biarkan harta menjadi pemicu permusuhan melainkan menjadi perekat yg teramat kuat di antara saudara. Kita akan hidup bahagia jika kita banyak memberikan cinta kasih kepada sesama.

Kita tidak akan pernah kekurangan jika kita selalu berusaha mencukupi kehidupan orang lain. Kita tidak akan mendapat kesusahan jika kita selalu berusaha membahagiakan orang lain.

Sumber : Family Guide 

Ibu Penuh Waktu dan Perempuan Yang Bekerja

Senin, 08 Desember 2014

Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah kesimpulan. Perempuan yang bekerja tidak lebih baik daripada mereka yang hanya mengurus rumah tangga. Begitu juga sebaliknya, para ibu yang ‘bekerja’ penuh waktu untuk keluarga, tak sedikitpun memiliki hak untuk merendahkan perempuan lainnya yang memilih bekerja di luar rumah untuk kebutuhan dan kebahagiaan hidupnya.

Ini menyebalkan. Belakangan ini, timeline Facebook dan Twitter saya dipenuhi dua jenis pesan yang menurut saya keduanya sudah salah sejak dalam pikiran!

Ibu Penuh Waktu dan Perempuan
Yang Bekerja (Ilustrasi) 
Pesan pertama menyatakan bahwa tugas seorang perempuan adalah mengurus rumah tangga dan bekerja penuh waktu sebagai ibu yang merawat serta mendidik anak-anaknya. Pesan ini tampak baik-baik saja, sebenarnya, sebelum ia mendeskriditkan perempuan lainnya yang memilih bekerja di luar rumah, meniti karir atau sekadar menyambung hidup untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Dengan mengumbar argumen-argumen agama, kelompok yang menyebarkan pesan ini ingin para istri dan ibu diam di rumah saja: Menjadi perempuan penurut yang menghabiskan waktu hidupnya untuk ‘melayani’ suami dan anak-anak. Saya perlu menuliskan kata ‘melayani’ dengan tanda kutip, sebab kata ini rupanya benar-benar dipakai untuk memposisikan perempuan sebagai ‘pelayan’ rumah tangga saja. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, apalagi tugas mereka selain menyiapkan makanan, mencuci piring atau pakaian, menyapu atau mengepel lantai, lalu menunggu suami dan anak-anak pulang?

Pesan kedua bernada sebaliknya. Tanpa menafikan tugas seorang perempuan untuk merawat dan membahagiakan keluarga, katanya, perempuan juga punya hak yang sama untuk berprestasi di luar rumah—seperti berkarir di dunia kerja. Pesan semacam ini tampak baik, sebelum ia dibalut semacam sinisme berlebihan: Bahwa perempuan yang hanya berdiam di rumah untuk mengurus suami dan anak-anak adalah mereka yang memiliki pikiran yang ketinggalan zaman, jumud, dan kaku. Tak cukup sampai di situ, mereka lantas meremehkan sejumlah nasihat yang sebenarnya penting: Tentang tak menyerahkan sepenuhnya pengasuhan anak pada orang lain, tentang menjadi istri dan ibu yang baik, tentang menjadi perempuan mulia untuk menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Bagi saya, keduanya sama-sama tak menarik. Sama-sama menyebalkan. Keduanya bermasalah sebab melupakan sebuah momen penting bernama ‘empati’. Apapun argumen yang dipakai, mereka yang memilah-milah perempuan menjadi ini dan itu, harus begini dan begitu, tanpa terlebih dahulu ‘ikut merasa’ dan ‘membayangkan’ ada di posisi satu sama lainnya, tak seujung kuku pun berhak saling mengukur-ukur dan menghakimi. Perempuan yang tidak bekerja punya haknya sendiri untuk tidak bekerja, begitu juga sebaliknya. Memberi penilaian sepihak tanpa sikap empati seraya ngotot pada ‘pembenaran’ masing-masing adalah sebuah kesalahan besar—sejak dalam pikiran!

Saya terlahir di tengah keluarga pekerja keras. Nenek saya dari pihak ayah di masa mudanya adalah seorang petani yang ‘harus’ bekerja di luar rumah. Bersama kakek saya, nenek giat bekerja di ladang tetapi tetap mengurus dan merawat 10 anak-anaknya. Nenek saya dari pihak ibu adalah seorang pedagang yang tekun. Lebih 45 tahun ia berdagang tanpa sedikitpun melupakan tugasnya sebagai seorang istri maupun ibu.

Apakah mereka berdua kurang mulia di mata agama karena tidak menjadi istri dan ibu penuh waktu? Saya tidak tahu pasti. Tetapi saya kira agama saya tidak sedangkal bahwa perempuan harus diam saja di rumah dan tak perlu mencari nafkah. Kedua nenek saya menghabiskan waktu hidupnya untuk membantu suami masing-masing, seraya membesarkan anak-anak mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang. Di masa tua, keduanya tidak kaya raya. ‘Dunia kerja’ tak berhasil memberi mereka kemewahan. Tetapi anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi-pribadi tangguh yang menyayangi serta menghormati ibunya, saya kira. Sebagian menjadi profesor, doktor, guru, insinyur. Sebagaian lainnya menjadi pengusaha. Barangkali, itulah kekayaan dan kemewahan yang dimiliki kedua nenek saya.

Ibu saya lain lagi. Ibu memilih menjadi istri dan ibu penuh waktu, tak pernah seharipun bekerja di luar rumah untuk orang lain. Sejak awal menikah, ibu dan ayah sepakat membagi tugas masing-masing. Ayah bekerja di luar rumah, sementara ibu membantu ayah mem-back-up cinta dan perhatian untuk anak-anaknya. Mereka berdua bahagia menjalankan tugasnya masing-masing. Itu yang penting. Saat saya dan adik-adik pergi bersama ayah untuk membeli sesuatu dari uang yang dihasilkan ayah, ayah bilang bahwa rejeki yang diperolehnya dihasilkan dari kerja keras ibu yang membuatnya bekerja dengan tenang—sebab ibu telah menggantikan waktu ayah untuk merawat dan membahagiakan kami semua di rumah. Di rumah, ayah tidak pernah membiarkan ibu menjadi pelayan. Dan apakah ibu saya termasuk perempuan yang kuno, jumud, dan kaku karena tidak berkarir di luar? Saya kira, tidak. Ibu hanya memilih untuk tidak bekerja… dan ia bahagia menjalaninya.

Sampai di sini, barangkali saya perlu mengulangi kesimpulan saya lagi. Perempuan yang bekerja tidak lebih baik daripada mereka yang hanya mengurus rumah tangga, begitu juga sebaliknya! Yang mereka butuhkan adalah berempati pada satu sama lainnya. Hidup yang dijalani satu orang tentu berbeda dengan hidup yang dijalani orang lain, maka setiap orang memiliki pertimbangannya masing-masing untuk memutuskan hidup bahagia seperti apa yang ingin dipilihnya. Itu yang penting!

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan pertanyaan. Pentingkah pemerintah mengurangi jam kerja perempuan karir agar mereka punya waktu lebih banyak mengurus rumah tangga? Alih-alih penghormatan dan pengagungan perempuan, jangan-jangan rencana ini sebuah bentuk diskriminasi bahwa perempuan tak bisa menentukan dan mengatur kebahagiaannya sendiri. Jangan-jangan renacana tersebut merupakan bentuk ‘arogansi’ kaum laki-laki…. yang sudah salah sejak dalam pikiran?

Saya tak punya jawabannya. Hanya perempuan, dengan perspektifnya masing-masing, yang bisa menjawabnya sesuai dengan 'kebutuhan'-nya masing-masing.

Di atas semua itu, tenang saja. Bekerja atau tidak, seorang ibu selalu mulia.


Sumber : Fahd Pahdepie

Menjadi Role Model Yang Baik Bagi Anak

Menjadi Role Model Yang Baik Bagi Anak (Ilustrasi)
Ketika Anda kehilangan kendali atau berperilaku buruk di depan anak, semestinya Anda sadar bahwa perilaku dan tindakan itu dapat mempengaruhi mereka, bukan dalam cara yang baik. Anak-anak bisa sangat dipengaruhi sehingga mereka cenderung untuk meniru kebiasaan yang baik dan yang buruk dengan sangat cepat.

Inilah sebabnya mengapa Anda harus ekstra hati-hati mengenai bagaimana Anda bersikap di depan mereka.

Para ahli mengatakan bahwa alih-alih memarahi anak-anak atau memberi mereka hukuman yang keras, Anda disarankan untuk menanamkan perilaku hidup sehat dan kebiasaan yang baik. Berikut adalah beberapa hal yang harus di ingat, seperti dilansir Times of India, 8 Desember 2014. 

Jaga sikap di depan Anak

Hindari mengkritik diri sendiri di depan anak Anda. Hal ini karena Anda bisa saja mengirimkan pesan yang salah kepada mereka yang dapat mempengaruhi mereka.

Jangan menghabiskan waktu di depan Gadget

Jangan menghabiskan berjam-jam di depan laptop atau smartphone. Perilaku ini mengirimkan sinyal yang salah kepada anak Anda. Mereka akan berpikir tidak apa-apa untuk melakukan hal yang sama. Jauhkan semua gadget terutama di saat-saat penting seperti saat makan dimana Anda dan si kecil dapat menghabiskan waktu mengobrol.

Hindari kebiasaan dalam berdandan

Untuk Anda yang memiliki anak perempuan, tidak masalah jika sesekali mereka berdandan menggunakan riasan dan pakaian Anda. Namun, jangan biarkan hal ini menjadi sebuah kebiasaan karena dapat membuatnya dewasa sebelum waktunya.

Ajarkan makan makanan sehat

Jika Anda mencoba untuk membuat anak mengonsumsi makanan yang sehat, Anda tidak akan membantu ketika masih mengonsumsi makanan cepat saji. Oleh karena itu, dorong anak Anda untuk mengonsumsi makanan yang sehat dengan memberi mereka contoh. Ketika mereka melihat bahwa Anda benar-benar menikmati apa yang Anda makan, kemungkinannya mereka juga akan melakukan hal yang sama.

Hindari stres atau sedih di depan anak

Apakah Anda lari ke makanan ketika sedang stres atau sedih? Hentikan kebiasaan buruk tersebut karena akan mengirimkan pesan yang salah kepada anak Anda dan membuat mereka melakukan perilaku yang sama.

Ajari anak membaca buku

Biarkan anak Anda melihat Anda membaca dan dorong mereka untuk melakukan hal yang sama. Ada ribuan buku-buku bagus di luar sana yang patut dibaca buah hati Anda. Biasakan mengajak mereka pergi ke toko buku setidakya dua kali dalam sebulan dan membiarkan mereka mengambil buku pilihan mereka.

Jangan membandingkan

Jangan pernah membandingkan anak-anak Anda satu dengan yang lainnya atau membuat semuanya berkompetisi. Ini hanya akan mendemotivasi mereka dan menurunkan harga diri mereka. 

Hindari perdebatan

Hindari berdebat atau bertengkar dengan pasangan Anda, atau orang lain di depan anak. Mereka akan menganggap bahwa tidak apa-apa untuk berteriak atau bersikap kasar dalam sebuah argumen.

Hindari gosip di depan anak

Jangan bicara mengenai orang lain di depan anak-anak. Mereka mengartikan ini sebagai tanda bahwa hal itu baik-baik saja dan tidak ragu untuk melakukan bersama. Hindari pula bergosip di depan mereka.

Sumber : viva life 

Jika Anak Saya Nakal

Minggu, 07 Desember 2014

Banyak orang tua yang mengeluh anaknya nakal. Tidak bisa diam. Banyak jajan, jahil, suka berantem dan kenakalan-kenakalan lainnya. Maka sang anak sering dimarahi jadinya. Sebut saja seorang ibu, Bu Ade namanya. Dia memiliki 3 anak perempuan. Dan ini mengenai anaknya yang kedua.

Saat hamil 7 bulan, Bu Ade masih aktif bekerja di sebuah rumah sakit. Dan kesibukan di tempat kerjanya membuatnya lupa bahwa pada saat itu ia sedang berbadan dua. Maka, meskipun lelah ia tetap memaksakan bekerja. Akhirnya saat mendorong bed pasien musibah terjadi. Tali plasenta yang menempel ke rahim lepas. Dan terjadilah pendarahan hebat di rahim. Hanya sekitar hitungan jam Hb turun drastis dan suplai oksigen ke janin terputus, karena plasenta adalah satu-satunya jalan suplai nutrisi dan oksigen bagi bayi. Kondisi ini mengancam nyawa ibu dan bayi.

Untung tempatnya bekerja di rumah sakit. Tepatnya di bagian ruangan operasi. Jadi ketika tahu kondisi demikian langsung hari itu juga di putuskan operasi caesar emergency. Dan alhamdulillah nyawa ibu dan bayi terselamatkan. Namun malang bagi sang bayi. Karena dilahirkan dalam usia kandungan yang belum matang dan supply oksigen yang kurang dalam waktu sekian jam akhirnya bayi yg diberi nama Marsya ini harus menderita kerusakan otak dari kecil yang membuatnya menjadi keterbelakangan mental.

Hari dan tahun berganti di lewati dengan masa sulit. Marsya harus keluar masuk ICU karena kondisi yang tidak stabil. Berkali-kali bu Ade memasrahkan anaknya karena melihat kondisi yg terjadi. Namun Allah berkehendak lain. Marsya selalu bertahan dalam sakitnya. Ia berbeda dengan anak lain. Tak bisa bicara, tak bisa duduk, tak bisa jalan. Bahkan sampai di usianya 10 tahun. Hanya berbaring. Dan ini membuat sedih sang Ibu. Makan pun harus selalu di suapi.

Maka, jika melihat saat ini anak saya nakal, Atau mendengar keluhan anak saya nakal dari orang lain. Selalu saja teringat kisah bu Ade dan Marsya. Jika anak saya nakal. Bu Ade malah ingin Marsya bisa nakal. Bisa teriak-teriak. Bisa jahil. Bisa lari-lari sampai membuat sang ibu pusing. Bisa melihat semua hal yang dikeluhkan oleh ibu-ibu yang lain.

Jika Anak Nakal (ilustrasi)
Jika ingat ini. Saat melihat anak saya nakal, jadilah senyuman. Toh namanya juga anak-anak. Wajar kalo nakal. Syukuri dulu. Cintai dulu. Mudah-mudahan Allah ubah sifat dan karakter sang anak. Marah bukan solusi. Jika harus menghukum, jangan sertakan emosi.

Jangan ada keinginan memberi hukuman agar diri merasa puas. Tapi hukuman agar anak sadar dan jadi lebih baik. Anak nakal mesti disyukuri mereka masih bisa nakal. Tak seperti hal nya Marsya yang tak bisa nakal. Maka semuanya akan jadi mudah.

Ya syukur membuat hidup mudah dan indah. Tak punya sepatu bagus, syukur kita masih punya kaki. Toh banyak orang yang tak ada kaki. Belum punya rumah dan masih ngontrak, syukuri masih ada tempat tinggal. Toh banyak yang hidup di gerobak dengan anak banyak atau hidup di kolong jembatan. Gaji kecil syukuri. Banyak orang masih nganggur. Insya Allah, jika di syukuri Allah tambah kenikmatan untuk kita. 

Kini Marsya sudah tiada. Allah sudah memanggilnya. Namun pelajaran yang luar bisa dapat kita ambil hikmahnya. Ditengah lelahnya kita selaku orang tua dalam mendidik anak. Semoga kisah ini memberi persepsi baru. Membuat kita semua lebih sabar dalam mendidik anak-anak kita. Lebih mencintai mereka dan lebih bersyukur atas kehadiran mereka di tengah hidup kita. Salam cinta dari seorang ayah yang sedang belajar mendidik anak.

Sumber : LSM Furiska

Bagaimana Menghadapi Anak Autis?

Kamis, 04 Desember 2014

Menjalin komunikasi dengan anak autis jelaslah bukan perkara mudah. Namun bukan juga hal yang mustahil untuk dilakukan.  Dibutuhkan metoda yang tepat untuk membentuk  dan menjalin komunikasi dengan anak autis, tentunya komunikasi yang baik dan berkualitas. Dan hal itu sebaiknya dilakukan sejak dini.
Leo Kanner dalam tulisannya yang berjudul Autistic Disturbances of Affective Contact, menyebutkan beberapa gejala yang didapat pada anak autisme. Diantaranya adalah kesendirian (bermain seorang diri) pada anak autis begitu hebat serta perkembangan bahasa yang terlambat.
Ilustrasi
Hal ini menyebabkan anak-anak autis tidak mampu membentuk jalinan emosi dengan orang lain. Selain itu, beberapa anak autis merasa sensitif terhadap bunyi atau suara yang didengar telinga, sentuhan, pandangan mata dan penciuman. Kondisi ini jelas menyulitkan orangtua dan orang lain untuk menjalin komunikasi dengan anak autis.
Kita pun amat memahami, komunikasi dengan anak autis merupakan salah satu jembatan yang harus dibangun untuk membantu mereka agar berkembang untuk menjadi pribadi-pribadi mandiri, keluar dari dunia mereka menuju dunia luar dan masa depannya.
Untuk menjalin komunikasi dengan anak autis, hal yang pertamakali harus kita lakukan adalah melihat dan mengembangkan hal-hal penting yang menjadi dasar membentuk komunikasi dengan anak autis.
Berikut beberapa metoda sederhana yang saya kutip dari makalah Keriyadi yang berjudul Percakapan Pada Anak Usia Dini dengan Metode Maternal Reflektif , yaitu :

1. Sikap Keterarahwajahan

Merupakan dasar utama untuk menangkap ungkapan orang lain, sehingga anak dapat memahami percakapan orang di sekitarnya.
Metode yang dilakukan bisa dengan cara :
  • Bermain “ci luk ba” bersama anak
  • Berbicara setiap mendapat kontak mata dengan anak
  • Berbicaralah tentang hal-hal yang disukai anak, untuk mendapatkan kontak mata yang bersifat spontan
  • Hentikan kegiatan sejenak sampai anak melihat kita, barulah sampaikan informasi yang ingin diketahui anak.

2. Sikap Keterarahsuaraan

Penyadaran terhadap adanya berbagai suara dan bunyi akan memperkaya batin anak serta menghubungkannya dengan dunia di luar dirinya.
Latihan dapat dilakukan di dalam maupun di luar ruangan dengan cara bermain.
Misalnya :
  • Selalu mengajak anak bercakap-cakap dalam segala situasi.
  • Menangkap dan membuat bunyi secara bergantian
  • Tunjukkan sumber bunyi, bila anak bereaksi terhadap bunyi tertentu.
  • Menyadarkan anak, bahwa bunyi datang dari berbagai arah. Bisa dari depan, samping, belakang, dsb.

3. Suasana bersama antara anak dan ibu/terapis

Perkembangan bahasa anak sangat tergantung pada terjadinya percakapan-percakapan ringan antara anak dengan ibu atau orang terdekatnya ketika melakukan kegiatan bersama dalam kehidupan sehari-hari.

4. Tanggap terhadap apa yang ingin dikatakan anak

Biasanya anak autis akan menggunakan berbagai cara untuk mengungkapkan dirinya, seperti : gerakan tubuh, suara bermakna, senyuman, tangisan, mimik wajah dan isyarat tangan.

5. Penggunaan dorongan meniru

Dasar berbahasa bukanlah sekadar memberikan atau menanamkan kosakata pada anak, melainkan menciptakan kondisi yang membangkitkan minat anak untuk berkomunikasi. Salah satunya dengan menggunakan media gambar.

6. Mengapresiasi spontanitas anak

Berlah pujian ketika anak berani mengkomunikasikan dirinya, meskipun ungkapan itu masih sangat sederhana.

7. Menggunakan Reinforcement/Penguat

Kita bisa memberi hadiah terhadap prilaku positif anak dan memberikan teguran untuk hal-hal negatif yang dilakukannya.

8. Menumbuhkan rasa empati dalam percakapan

Untuk membangun rasa empati anak terhadap perasaan orang lain, sejak dini anak harus dikenalkan dan ditanamkan pada berbagai bentuk ungkapan yang mampu mewakili perasaan dan menggambarkan suasana hati.
Misalnya dengan memilih ungkapan yang menyiratkan kesedihan dan diikuti dengan mimik wajah yang mendukung untuk suatu peristiwa yang membuat anak merasa sedih.
Demikianlah metoda sederhana yang bisa kita lakukan dalam keseharian baik di dalam maupun di luar ruangan. Keberhasilan kita menjalin komunikasi dengan anak autis  akan semakin besar seiring dengan besarnya upaya dan intensitas kita dalam menerapkan metoda ini dalam kehidupan kita sehari-hari.

sumber : Liza P. Arjanto (dari theasianparent.com)
 

Blogger news

Blogroll

Most Reading