Pages

Tampilkan postingan dengan label Suami Istri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suami Istri. Tampilkan semua postingan

Fase-Fase Kritis Pembentukan Perilaku Anak

Minggu, 08 November 2015

Image result for fase fase kritis pembentukan perilaku anak
Ilustrasi

Berada di fase manakah anak kita ?
Suatu ketika ada seorang ibu yang memiliki anak berusia 16 tahun datang kepada saya, untuk mengeluhkan perilaku anaknya katanya sangat bermasalah.
Bayangkan katanya; anak saya ini sudah tidak bisa di atur lagi, bahkan jika dia bicara ke saya, sering memaki-maki dengan perkataan yang kotor, dan bahkan pernah beberapa kali dia memukul saya....,
Sambil menangis si ibu ini terus melanjutkan ceritanya... Selain itu saya sama sekolah juga sering di panggil, karena anak ini sering memukul atau bahkan berkelahi di sekolah.
Aduh saya sepertinya sudah tobat dengan perilaku anak saya ini....., saya tidak tahu lagi harus bagaimana....? rasanya saya sudah putus asa....., setiap kali saya mengadukan hal ini pada suami, malah yang saya dapat adalah kemarahan tambahan dari suami saya...
Sungguh pada akhirnya saya juga jadi bingung harus mulai dari mana untuk bisa membantu ibu ini......, yang pasti ini semua merupakan sebuah proses panjang dari suatu kesalahan pengasuhan dan pendidikan dari kedua orang tuanya.
Para orang tua dan guru yang berbahagia,
Kali ini saya tidak ingin membahas tentang bagaimana cara memperbaiki perilaku anak ini, melainkan, saya lebih ingin untuk mengajak para orang tua untuk tahu bagaimana mencegah agar hal yang sama tidak terjadi pada anak kita dirumah.

Para orang tua yang berbahagia, 
Tahukah kita bahwa kita hanya punya kesempatan mendidik anak kita untuk menjadi anak baik sangat terbatas sekali. Yakni sejak usia mereka balita hingga kira-kira di usia sekolah SMP akhir. Setelah itu kebanyakan anak akan sangat sulit sekali di ubah menjadi baik. Kecuali dengan cara-cara tertentu yang agak sedikit ekstrim.

Namun demikian sesungguhnya tiap orang tua dapat mencegahnya sebelum ini terjadi; yakni dengan menggunakan kesempatan emas mendidik anak tersebut.
Menurut penelitian Ibu Dawna Markova, diketahui bahwa perilaku anak itu mulai dibentuk sejak usia Balita; yakni mulai fase Ego Sentris dimana anak merasa paling benar, paling penting sendiri, tidak bisa memahami hak dan keberadaan orang lain.
Diharapkan pada fase ini peran orang tua adalah untuk mengajari anaknya untuk bisa berbagi dan memahami hak orang lain.
Kemudian berlanjut pada fase berikutnya yang di sebut sebagai gank age awal yakni usia SD yang di tandai dengan keinginan anak untuk di terima oleh orang lain atau kelompoknya; dengan cara meniru-niru prilaku teman-teman di kelompoknya. Pada fase ini peran orang tua di harapkan dapat mengajak anak berdiskusi mengenai nilai-nilai baik dan buruk dari sebuah prilaku yang ditiru oleh anaknya sampai ia paham betul. Tentunya tanpa harus memarahi anak, karena pada fase ini anak sering kali tidak tahu kalau yang ditirunya itu buruk, karena mereka memang belum memiliki acuan tentang baik dan buruk.
Setelah itu ia fasenya akan beranjak memasuki usia Gank Age Tengah pada usia SMP. Pada fase ini biasanya seorang anak tidak hanya masih meniru budaya kelompoknya tapi bahkan mulai tumbuh keinginan untuk tampil beda agar mendapat perhatian dari anggota kelompoknya atau orang-orang di sekitarnya; oleh karena itu anak-anak SMP kita yang tidak terkelola mulai menunjukkan perilaku-perilaku seperti mengubah model rambut agar tampak agak nyentrik, kemudian menggunakan gelang, anting atau mulai mencoba merokok, tawuran dsbnya sampai yang terparah adalah perbuatan kriminal dan narkoba. Ini semua pada awalnya hanya dengan tujuan untuk menonjolkan diri di depan teman-temannya untuk mencari-cari perhatian namun pada akhirnya justru malah ke bablasan.
Pada fase ini orang tua dan guru diharapkan dapat membantu anak untuk menemukan keunggulan alaminya, agar ia bisa mendapat perhatian dari hal tersebut; seperti misalnya anak yang kuat di sport di dorong untuk masuk kursus/club sport, bagi anak yang suka tampil bicara berikan kesempatan untuk mengikuti lomba-lomba puisi, pidato,debat, untuk anak yang suka kekerasan dimasukkan ke klub bela diri dsb. Jadi mereka tahu apa yang menjadi keunggulan alami yang bisa dipamerkan pada kelompoknya untuk mendapatkan perhatian. Tidak harus mencari-cari yang pada akhirnya sering menjerumuskan mereka ke perilaku-perilaku terlarang.
Dan apa bila masa SMP ini tidak berhasil kita kelola dengan baik perilaku anak kita maka setelah itu akan sulit untuk mengubahnya. Kenapa....? karena setelah itu dia akan memasuki fase identitas; yakni sebuah fase penetapan nilai dan konsep diri seorang anak. Jika dia menganggap hal negatif seperti kebut-kebutan adalah hal yang oke bagi dirinya; maka dia akan mengakuinya itu sebagai hal baik, dan akan sulit bagi kita untuk mengubahnya..
Jadi sekali lagi mari kita kawal masa-masa perkembangan anak kita mulai dari BALITA hingga menjelang SMA. Jika anda berhasil melakukannya maka selamtlah anak kita; dan anda mulai bisa melepas dia untuk berpisah melanjutkan studinya di perguruan tinggi dengan relatif aman. Namun jika tidak dia akan cenderung terus membuat masalah dimanapun dia berada.

Sumber : Ayah Edy

Ketahuilah, Ridho Suami Ladang Surga bagi Istri

Kamis, 08 Oktober 2015

Sahabat, tentu kita sudah tahu bahwa suami kita adalah ladang surga bagi kita sebagai seorang istri.
1.Seorang suami yang dibesarkan oleh ibunya menjadi lelaki yang shalih dan bertanggungjawab terhadap keluarganya. Di satu sisi ibunya sangat mencintai anaknya seumur hidup, namun dia memilih mencintai calon istri yang belum tentu mencintai seumur hidup, bahkan terkadang rasa cinta suami terhadap istri lebih besar dari pada rasa cinta terhadap ibunya sendiri.
2.Seorang suami yang dibesarkan oleh ayah dan ibunya hingga ia beranjak dewasa dan mandiri sehingga ia mampu menikah dengan biaya sendiri tanpa merepotkan kedua orang tua. Namun ketika akad nikah terucap, ia telah bertekad untuk menanggung nafkah seorang istri sebelum ia mampu membalas kebaikan orang tuanya. Padahal istri yang baru dikenalnya itu tidak ada ikatan rahim seperti ayah dan ibunya namun kasih sayang dan tanggungjawab seorang suami merupakan sebuah kewajiban dan kecintaan yang besar terhadap keluarganya.
Ketahuilah, Ridho Suami Ladang Surga bagi Istri
Ilustrasi
3.Seorang suami menghabiskan waktunya untuk mencukupi kebutuhan hidup rumah tangga, ia ridla bekerja lembur untuk menafkahi sang istri. Padahal di sisi Allah Swt, seorang istri sebagai ibu dari anak-anak harus lebih dihormati tiga kali lebih besar daripada seorang suami yang menjadi ayah dari anak-anaknya. Namun sebagai suami yang baik tidak merasa iri disebabkan rasa cinta kepada istri dan hanya berharap mendapatkan lebih baik dari Allah Ta’ala.
4.Suami berusaha menutupi masalahnya dihadapanmu dan berusaha menyelesaikannya sendiri. Sedangkan engkau terbiasa mengadukan masalahmu pada dia dengan harapan dia mampu memberi solusi.padahal bisa saja disaat engkau mengadu itu, dia sedang memiliki masalah yang lebih besar.namun tetap saja masalahmu di utamakan dibandingkan masalah yang dihadapi sendiri.
5.Suami berusaha memahami bahasa diammu, bahasa tangisanmu sedangkan engkau kadang hanya mampu memahami bahasa verbalnya saja.Itupun bila dia telah mengulanginya berkali-kali. 
6.Bila engkau melakukan maksiat,maka dia akan ikut terseret ke neraka karena dia ikut bertanggung jawab akan maksiatmu. Namun bila dia bermaksiat, kamu tidak akan pernah di tuntut ke neraka karena apa yang dilakukan olehnya adalah hal-hal yang harus dipertanggung jawabkannya sendiri. 

Sumber :  Imam Hamizan Al-Abqary

Ibu Penuh Waktu dan Perempuan Yang Bekerja

Senin, 08 Desember 2014

Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah kesimpulan. Perempuan yang bekerja tidak lebih baik daripada mereka yang hanya mengurus rumah tangga. Begitu juga sebaliknya, para ibu yang ‘bekerja’ penuh waktu untuk keluarga, tak sedikitpun memiliki hak untuk merendahkan perempuan lainnya yang memilih bekerja di luar rumah untuk kebutuhan dan kebahagiaan hidupnya.

Ini menyebalkan. Belakangan ini, timeline Facebook dan Twitter saya dipenuhi dua jenis pesan yang menurut saya keduanya sudah salah sejak dalam pikiran!

Ibu Penuh Waktu dan Perempuan
Yang Bekerja (Ilustrasi) 
Pesan pertama menyatakan bahwa tugas seorang perempuan adalah mengurus rumah tangga dan bekerja penuh waktu sebagai ibu yang merawat serta mendidik anak-anaknya. Pesan ini tampak baik-baik saja, sebenarnya, sebelum ia mendeskriditkan perempuan lainnya yang memilih bekerja di luar rumah, meniti karir atau sekadar menyambung hidup untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Dengan mengumbar argumen-argumen agama, kelompok yang menyebarkan pesan ini ingin para istri dan ibu diam di rumah saja: Menjadi perempuan penurut yang menghabiskan waktu hidupnya untuk ‘melayani’ suami dan anak-anak. Saya perlu menuliskan kata ‘melayani’ dengan tanda kutip, sebab kata ini rupanya benar-benar dipakai untuk memposisikan perempuan sebagai ‘pelayan’ rumah tangga saja. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, apalagi tugas mereka selain menyiapkan makanan, mencuci piring atau pakaian, menyapu atau mengepel lantai, lalu menunggu suami dan anak-anak pulang?

Pesan kedua bernada sebaliknya. Tanpa menafikan tugas seorang perempuan untuk merawat dan membahagiakan keluarga, katanya, perempuan juga punya hak yang sama untuk berprestasi di luar rumah—seperti berkarir di dunia kerja. Pesan semacam ini tampak baik, sebelum ia dibalut semacam sinisme berlebihan: Bahwa perempuan yang hanya berdiam di rumah untuk mengurus suami dan anak-anak adalah mereka yang memiliki pikiran yang ketinggalan zaman, jumud, dan kaku. Tak cukup sampai di situ, mereka lantas meremehkan sejumlah nasihat yang sebenarnya penting: Tentang tak menyerahkan sepenuhnya pengasuhan anak pada orang lain, tentang menjadi istri dan ibu yang baik, tentang menjadi perempuan mulia untuk menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Bagi saya, keduanya sama-sama tak menarik. Sama-sama menyebalkan. Keduanya bermasalah sebab melupakan sebuah momen penting bernama ‘empati’. Apapun argumen yang dipakai, mereka yang memilah-milah perempuan menjadi ini dan itu, harus begini dan begitu, tanpa terlebih dahulu ‘ikut merasa’ dan ‘membayangkan’ ada di posisi satu sama lainnya, tak seujung kuku pun berhak saling mengukur-ukur dan menghakimi. Perempuan yang tidak bekerja punya haknya sendiri untuk tidak bekerja, begitu juga sebaliknya. Memberi penilaian sepihak tanpa sikap empati seraya ngotot pada ‘pembenaran’ masing-masing adalah sebuah kesalahan besar—sejak dalam pikiran!

Saya terlahir di tengah keluarga pekerja keras. Nenek saya dari pihak ayah di masa mudanya adalah seorang petani yang ‘harus’ bekerja di luar rumah. Bersama kakek saya, nenek giat bekerja di ladang tetapi tetap mengurus dan merawat 10 anak-anaknya. Nenek saya dari pihak ibu adalah seorang pedagang yang tekun. Lebih 45 tahun ia berdagang tanpa sedikitpun melupakan tugasnya sebagai seorang istri maupun ibu.

Apakah mereka berdua kurang mulia di mata agama karena tidak menjadi istri dan ibu penuh waktu? Saya tidak tahu pasti. Tetapi saya kira agama saya tidak sedangkal bahwa perempuan harus diam saja di rumah dan tak perlu mencari nafkah. Kedua nenek saya menghabiskan waktu hidupnya untuk membantu suami masing-masing, seraya membesarkan anak-anak mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang. Di masa tua, keduanya tidak kaya raya. ‘Dunia kerja’ tak berhasil memberi mereka kemewahan. Tetapi anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi-pribadi tangguh yang menyayangi serta menghormati ibunya, saya kira. Sebagian menjadi profesor, doktor, guru, insinyur. Sebagaian lainnya menjadi pengusaha. Barangkali, itulah kekayaan dan kemewahan yang dimiliki kedua nenek saya.

Ibu saya lain lagi. Ibu memilih menjadi istri dan ibu penuh waktu, tak pernah seharipun bekerja di luar rumah untuk orang lain. Sejak awal menikah, ibu dan ayah sepakat membagi tugas masing-masing. Ayah bekerja di luar rumah, sementara ibu membantu ayah mem-back-up cinta dan perhatian untuk anak-anaknya. Mereka berdua bahagia menjalankan tugasnya masing-masing. Itu yang penting. Saat saya dan adik-adik pergi bersama ayah untuk membeli sesuatu dari uang yang dihasilkan ayah, ayah bilang bahwa rejeki yang diperolehnya dihasilkan dari kerja keras ibu yang membuatnya bekerja dengan tenang—sebab ibu telah menggantikan waktu ayah untuk merawat dan membahagiakan kami semua di rumah. Di rumah, ayah tidak pernah membiarkan ibu menjadi pelayan. Dan apakah ibu saya termasuk perempuan yang kuno, jumud, dan kaku karena tidak berkarir di luar? Saya kira, tidak. Ibu hanya memilih untuk tidak bekerja… dan ia bahagia menjalaninya.

Sampai di sini, barangkali saya perlu mengulangi kesimpulan saya lagi. Perempuan yang bekerja tidak lebih baik daripada mereka yang hanya mengurus rumah tangga, begitu juga sebaliknya! Yang mereka butuhkan adalah berempati pada satu sama lainnya. Hidup yang dijalani satu orang tentu berbeda dengan hidup yang dijalani orang lain, maka setiap orang memiliki pertimbangannya masing-masing untuk memutuskan hidup bahagia seperti apa yang ingin dipilihnya. Itu yang penting!

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan pertanyaan. Pentingkah pemerintah mengurangi jam kerja perempuan karir agar mereka punya waktu lebih banyak mengurus rumah tangga? Alih-alih penghormatan dan pengagungan perempuan, jangan-jangan rencana ini sebuah bentuk diskriminasi bahwa perempuan tak bisa menentukan dan mengatur kebahagiaannya sendiri. Jangan-jangan renacana tersebut merupakan bentuk ‘arogansi’ kaum laki-laki…. yang sudah salah sejak dalam pikiran?

Saya tak punya jawabannya. Hanya perempuan, dengan perspektifnya masing-masing, yang bisa menjawabnya sesuai dengan 'kebutuhan'-nya masing-masing.

Di atas semua itu, tenang saja. Bekerja atau tidak, seorang ibu selalu mulia.


Sumber : Fahd Pahdepie

Pacaran Rutin

Rabu, 03 Desember 2014

Ilustrasi
Pasangan suami istri tetap perlu membuat jadwal pacaran rutin. Berduaan menikmati kebersamaan.
Jangan sampai terjebak dalam rutinitas kegiatan sehari-hari hingga tidak lagi menikmati kemesraan dan keintiman berdua.

Walau sudah menjadi pasangan tua, ciptakanlah momentum pacaran dengan pasangan tercinta.
Naik sepeda kayuh berdua sembari olah raga pagi, berjalan berduaan ke taman wisata, atau naik motor berdua berboncengan mesra, adalah contoh kegiatan pacaran yang mengasyikkan dan murah meriah.
Saat naik motor berdua, tidak penting tujuannya pergi kemana. Karena tujuan utamamya adalah untuk menikmati kebersamaan berdua saja.
Jika punya dana yang cukup, bisa melaksanakan umrah berdua. Ini merupakan kegiatan ruhaniyah yang bisa menguatkan ikatan hati suami istri.
Jika tidak punya cukup dana, masih banyak pilihan kegiatan berduaan yang mengasyikkan. Nonton film berdua, makam malam berdua, nonton konser berdua, semua terasa mengasyikkan.
Usia dan kesibukan jangan menjadi penghalang untuk menciptakan momentum pacaran dengan pasangan tercinta.

Sumber :  Cahyadi Takariawan
 

Blogger news

Blogroll

Most Reading

Tags